Reader

Apakah mayat berjalan Toraja tertangkap kamera?

Canonical source: https://www.enigmablogger.com/2014/01/apakah-mayat-berjalan-toraja-tertangkap.html

2012-01-11enigmaParsedLain-lain
Tulisan ini benar-benar terlambat. Namun, walaupun sudah sering dan bahkan sudah cukup lama diberitakan, saya masih menerima email pertanyaan mengenai mayat berjalan tanah Toraja. Awalnya, saya sama sekali tidak berniat untuk menulis soal ini karena saya enggan mengomentari soal-soal mistik. Tapi, sepertinya pertanyaan yang masuk rata-rata berkisar pada masalah foto. Jadi, saya menghabiskan dua hari ini untuk mencari informasi mengenai Toraja dan berusaha menjawab pertanyaan apakah foto itu menunjukkan mayat yang berjalan di tanah Toraja? Jadi, sayapun memutuskan untuk menulis soal ini. Namun, saya hanya akan membatasi soal foto sang mayat. Ada dua pertanyaan yang akan saya jawab. Apakah foto itu menunjukkan prosesi mayat yang sedang berjalan? Kalau tidak menunjukkan mayat yang sedang berjalan, prosesi apakah yang sedang tergambar di foto tersebut? (Warning: Tulisan ini berisi foto-foto yang kurang menyenangkan untuk dilihat. Jadi, kalau kalian yang membaca ini sedang makan, sebaiknya kalian selesaikan dulu, baru membaca) Sebelumnya, mari kita lihat kutipan dari kisah yang beredar luas. Ada beberapa versi yang beredar. Namun, saya akan mengutip dari email yang saya terima dari pembaca. Konon disebuah gua di desa Sillanang sedjak tahun 1905 telah ditemukan majat manusia jang utuh, tidak busuk sampai sekarang. Majat itu tidak dibalsem seperti jang dilakukan orang-orang Mesir Purba bahkan tidak diberi ramuan apapun. Tapi bisa tetap utuh. Menurut pendapat Tampubolon, kemungkinan ada sematjam zat digua itu jang chasiatnja bisa mengawetkan majat manusia. Kalau sadja ada ahli geologi dan kimia jang mau membuang waktu menjelidiki tempat itu, agaknja teka teki gua Sillanang dapat dipetjahkan. Di samping majat jang anti husuk, ada pula majat manusia jang bisa berdjalan diatas kedua kakinja, bagaikan orang hidup jang tidak kurang suatu apa. Kalau mau ditjari djuga perbedaannja, ada, tapi tidak begitu kentara. Konon menurut Tampubolon, sang majat berdjalan kaku dan agak tersentak-sentak. Dan dalam perdjalanan itu ia tidak bisa sendirian, harus ditemani oleh satu orang hidup jang mengawalnja, sampai ketudjuan achir jaitu rumahnja sendiri. Mengapa harus demikian? Tjeritanja begini. Orang-orang Toradja biasa mendjeladjah daerahnja jang bergunung-gunung dan banjak tjeruk itu hanja dengan berdjalan kaki. Dari zaman purba sampai sekarang tetap begitu. Mereka tidak mengenal pedati, delman, gerobak atau jang sematjamnja. Nah dalam perdjalanan jang berat itu kemungkinan djatuh sakit dan mati selalu ada. Supaja majat tidak sampai ditinggal didaerah jang tidak dikenal (orang Toradja menghormati roh setiap orang jang meninggal) dan djug supaja ia tidak menjusahkan manusia lainnja (akan sangat tidak mungkin menggotong terus-menerus djenazah sepandjang perdjalanan jang makan waktu berhari-hari), maka dengan satu ilmu gaib, mungkin sedjenis hipnotisme menurut istilah saman sekarang, majat diharuskan pulang berdjalan kaki dan baru berhenti bila ia sudah meletakkan badannja didalam rumahnja sendiri. Tulisan di atas kemudian disertai dengan sebuah foto. Membaca kalimat di atas, saya cukup heran dengan ejaan yang digunakan. Namun, ternyata berita tersebut memang dimuat di berbagai blog dengan ejaan seperti itu. Mengapa ini bisa terjadi? Jawabannya cukup sederhana. Tulisan ini pertama kali dimuat di internet oleh torajacybernews.blogspot.com dan disitu disebutkan kalau tulisan itu adalah saduran dari sebuah tulisan lama bertanggal 19 Februari 1972. Ejaan yang kita kenal sekarang atau Ejaan yang disempurnakan (EYD) diresmikan penggunaannya pada tanggal 16 Agustus 1972. Dengan demikian, cerita di atas masih menggunakan ejaan sebelumnya, yaitu ejaan Republik. Jadi, sekarang kalian tahu mengapa tulisan di atas menggunakan ejaan yang cukup asing. Karena itu pula, foto tersebut tidak berkaitan dengan isi tulisan itu karena foto tersebut jelas bukan berasal dari kamera tahun 1972. Nah, sekarang masuk ke pertanyaan pertama: apakah foto di atas menunjukkan foto mayat berjalan? Menurut saya Tidak. Apa yang terjadi sebenarnya adalah sebuah prasangka. Bayangkan, sebuah artikel mengenai mayat berjalan yang disertai sebuah foto mayat yang sedang berdiri. Bukankah itu akan membuat kita menganggapnya sebagai foto mayat berjalan? Walaupun sebenarnya belum tentu. Contoh lain: Misalnya, ada sebuah berita mengenai seorang perampok yang tertangkap polisi. Lalu pada berita tersebut, dilampiri sebuah foto yang menunjukkan seorang pria bertampang sangar. Apa yang terpikir oleh kalian? Kalian akan menganggap pria itu sebagai perampok yang tertangkap. Padahal bisa saja ia adalah polisi berpakaian preman yang telah menangkap perampok itu. Soal prasangka seperti ini sudah pernah saya bahas sedikit di postingan mengenai penemuan jejak tapak kaki raksasa di Aceh . Coba lihat foto di atas. Ada dua hal yang bisa menjadi petunjuk. Pertama, mayat wanita tersebut terlihat seperti mumi . Ini artinya ia telah meninggal dalam waktu yang cukup lama. Kedua, pada foto itu, terlihat adanya sebuah peti mati di kanan bawah. Peti mati tersebut terlihat kotor. Ini menunjukkan kalau peti mati itu telah digunakan untuk waktu yang cukup lama. Kedua petunjuk ini bertentangan dengan cerita mengenai mayat berjalan di atas. Di cerita itu, dikisahkan kalau orang Toraja yang merantau dan meninggal dalam perjalanannya, supaya tidak meninggal di tanah asing dan tidak merepotkan orang lain, dengan suatu ilmu gaib akan dibuat berjalan sendiri hingga sampai ke rumahnya untuk mendapatkan proses pemakaman yang layak. Itu artinya, mayat berjalan Toraja adalah mayat yang masih baru meninggal dan belum pernah ditaruh ke dalam peti. Ini tidak sesuai dengan foto yang kita miliki. Lagipula, torajacybernews tidak pernah menyebutnya sebagai foto mayat berjalan. Lalu, pertanyaan keduanya. Jika bukan menunjukkan mayat berjalan, prosesi apakah yang ditunjukkan oleh foto di atas? Saya percaya kalau foto tersebut menunjukkan bagian dari tradisi Toraja yang disebut Ma'nene , sejenis tradisi penghormatan kepada leluhur yang telah meninggal. Bagian dari tradisi ini adalah mengeluarkan jenazah anggota keluarga yang telah lama meninggal dari makam dan mengganti pakaiannya sebagai bentuk penghormatan kepada mereka. Tradisi Ma'nene pernah ditulis secara singkat oleh liputan6.com pada bulan Agustus 2005. Dari tulisan yang dibuat oleh Liputan6.com tersebut, sepertinya ada deskripsi yang mirip dengan apa yang tergambar di foto kita. Ini kutipannya: Kini, tiba saatnya keluarga Tumonglo menjalani ritual inti dari Ma`nene. Di bawah kuburan tebing batu Tunuan, keluarga ini berkumpul menunggu peti jenazah nenek Biu--leluhur keluarga Tumonglo yang meninggal dunia setahun lalu--diturunkan. Tak jauh dari tebing, kaum lelaki saling bergandengan tangan membentuk lingkaran sambil melantunkan Ma`badong. Sebuah gerak dan lagu yang melambangkan ratapan kesedihan mengenang jasa mendiang yang telah wafat sekaligus memberi semangat pada keluarga almarhum. Bersamaan dengan itu, peti jenazah pun mulai diturunkan dari lubang batu secara perlahan-lahan. Peti kusam berisi jasad nenek Biu. Keluarga Tumonglo mempercayai bahwa ada kehidupan kekal setelah kematian. Sejatinya kematian bukanlah akhir dari segala risalah kehidupan. Karena itu, menjadi kewajiban bagi setiap keluarga untuk mengenang dan merawat jasad leluhurnya meski sudah meninggal dunia beberapa tahun lalu. Dalam ritual ini, jasad orang mati dikeluarkan kembali dari tempatnya. Kemudian, mayat tersebut dibungkus ulang dengan lembaran kain baru oleh masing-masing anak cucunya. Kutipan selanjutnya: Acara dilanjutkan dengan membuka dua peti yang berisi jasad leluhur. Mayat yang sudah meninggal setahun yang lalu itu dibungkus ulang dengan kain baru. Perlakuan itu diyakini atas rasa hormat mereka pada leluhur semasa hidup. Mereka yakin arwah leluhur masih ada untuk memberi kebaikan. Selain di liputan6.com, saya menemukan tulisan lain mengenai proses penggantian pakaian jenazah yang ditulis oleh Eko Rusdianto di ekorusdianto.blogspot.com . Eko bahkan melampirkan dua foto yang menunjukkan prosesi yang sangat mirip dengan yang tergambar di foto kita. Eko menceritakan mengenai mayat yang sedang dibersihkan: Namanya Bapak Lambaa, meninggal usia 70 tahun. Tingginya sekitar 165 cm. Keluarganya menggulung celana dengan perlahan hingga lutut. Yang lain ikut mendandani Ambe Lambaa. Pakaian usang yang dikenakannya bertahun-tahun sekarang ikut diganti. Kaos kaki, jas, celana luar dan dalam. Hingga rambut harus disisir. Kini bapak Lambaa kembali menggunakan pakaian bersih. Perlahan-lahan ditidurkan kembali pada rumah petinya. Jadi, bukankah foto misterius kita lebih sesuai dengan deskripsi jenazah yang sedang dibersihkan dan diganti pakaiannya dibanding mayat berjalan? Namun, sebelumnya, saya perlu menegaskan kalau saya sama sekali tidak kesulitan menerima ide adanya ilmu gaib yang bisa membuat mayat berjalan sendiri. Jadi, tulisan ini tidak bermaksud untuk menyangkal adanya tradisi itu. Seperti yang saya katakan di atas, semua ini hanya pendapat saya pribadi. Jika berbicara soal tradisi daerah, saya yakin, pembaca yang asli Toraja akan lebih mengerti. Jadi, jika saya melakukan kesalahan dalam tulisan ini, dengan senang hati saya menerima koreksi. (semua sumber dan linkback sudah saya sertakan di dalam tulisan) Komentar Pilihan Anonymous said... Saya percaya kalo gambar pertama di atas adalah gambar mayat yang sedang berjalan...karena tradisi ma'nene selalu diadakan di "teras"sebuah kuburan yang menyerupai rumah...bukan di jalan!!!!! akal sehat kita memang susah menerima tetapi nggak di pungkiri kalo kejadian seperti ini memang ada di daerah toraja..klo mas pengen lebih yakin boleh jalan2 ke toraja, skalian liburan....^_^ (May 18, 2010 3:39 PM) To Toraya said... 3 Foto di atas memang foto2 dari acara ma'nene dari daerah toraja bagian utara (foto ini beredar melalui facebook anak2 toraja---foto2nya masih ada lebih banyak)...jadi bukan mayat yang berjalan . Walaupun memang di toraja di kenal dengan mayat berjalannya.... tradisi mayat berjalan mgkin masih ada di daerah2 pedalaman toraja (khususnya daerah toraja barat)...karena pengaruh dari agama kristen (mayoritas orang tator beragama kristen)sudah jarang tradisi itu dilakukan!! Tradisi Ma'Nene (nene'== nenek == leluhur) sdri adlah salah satu tradisi dari kepercayaan aluk todolo (agama nenek moyang orang toraja)..tradisi lebih bertujuan kepada penghormatan kepada orang yg sudah meninggal....jadi mayat2 di atas memang di ganti bajunya (caranya??? tnya sama yg ahlinya :D).. Mayat berjalan toraja bukan cuman mayat baru meninggal, akan tetapi menurut cerita orang mayat lamapun bisa..dulu katanya mayat2 tersebut bisa dipakai untuk membantu ngangkat2 kayu dll . Oh iyaa....orang toraja dan orang batak sama sekali berbeda :). walaupun watak dan karakteristik hampir sama akan tetapi asal nenek moyang berbeda. Walaupun sampai sekarang saya blom pernah secara langsung melihat tradisi mayat berjalan tetapi saya percaya tradsi itu masih ada sampai sekarang... (May 18, 2010 11:07 PM ) Share on Facebook Perhatian ! Boleh Copy paste, tapi kalau anda tidak keberatan mohon cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini.
Image metadata (3)
  1. https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjLyRBaISdHU1XU8Os2sfldbMY9buGcD9AcHfT6Po5FIW3WGqckN7IgZQR1QXAjqsK-0arJ71WPdJnmMufzaqt4HZ6i-TSVSiMGoaCm2TwYTAFYAxHMzd2tEQp0G-LrPXhXuX2APid7egCQ/s400/prosesitanatoraja.jpg
  2. https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiLyeRVhUzeXtAah4jdrVUGL-NDXdkT2lJgqSvT_ga-CUU1gteAtx47q5S7HW2K9n-8w0LDqvXaqxff23hiRdhQK9kJcejssQoaINRNN6x9K-dLB7jPNZugY6_ItHYCZV6u3FHnUV5Kwowk/s400/mayat2.JPG
  3. https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgFxKyNntrjpTerXQX8d-qKlY4CA-IOBHvoi8Mp3An_VoCXCw8LtUr0wDuTO4nSgsxXZ_PsFm1CeS4gpCFzrSH6-D1LZlBFuqVf_kg1Dq1AV55_jr8j8Yiv80akHdKO_g4bBlwPp353HxgI/s400/mayat.JPG
Outbound links (11)
  1. https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjLyRBaISdHU1XU8Os2sfldbMY9buGcD9AcHfT6Po5FIW3WGqckN7IgZQR1QXAjqsK-0arJ71WPdJnmMufzaqt4HZ6i-TSVSiMGoaCm2TwYTAFYAxHMzd2tEQp0G-LrPXhXuX2APid7egCQ/s1600/prosesitanatoraja.jpg
  2. http://torajacybernews.blogspot.com/2010/03/belang-ballo-di-toraja_5925.html
  3. http://xfile-enigma.blogspot.com/2009/10/galeri-foto-foto-mayat-alien-palsu.html
  4. http://xfile-enigma.blogspot.com/2010/02/penemuan-jejak-tapak-kaki-raksasa-aceh.html
  5. http://xfile-enigma.blogspot.com/2009/08/mumi-mumi-celtic-dari-gurun-taklamakan.html
  6. http://xfile-enigma.blogspot.com/2009/12/arkeolog-cina-berhasil-menemukan.html
  7. http://berita.liputan6.com/progsus/200508/107595/class=%27vidico%27
  8. http://ekorusdianto.blogspot.com/2009/11/rumah-kedua-menuju-surga.html
  9. https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiLyeRVhUzeXtAah4jdrVUGL-NDXdkT2lJgqSvT_ga-CUU1gteAtx47q5S7HW2K9n-8w0LDqvXaqxff23hiRdhQK9kJcejssQoaINRNN6x9K-dLB7jPNZugY6_ItHYCZV6u3FHnUV5Kwowk/s1600/mayat2.JPG
  10. https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgFxKyNntrjpTerXQX8d-qKlY4CA-IOBHvoi8Mp3An_VoCXCw8LtUr0wDuTO4nSgsxXZ_PsFm1CeS4gpCFzrSH6-D1LZlBFuqVf_kg1Dq1AV55_jr8j8Yiv80akHdKO_g4bBlwPp353HxgI/s1600/mayat.JPG
  11. http://www.facebook.com/share.php?u=https://www.enigmablogger.com/2014/01/apakah-mayat-berjalan-toraja-tertangkap.html

115 comments

Comments 101–115 of 115

Qyu
2010-06-24

di toraja dulu memang ada ilmu sihir yg bisa membuat mayat berjalan...nenek sy bisa melakukannya (boleh percaya boleh tidak...tp sejak lama sdh tdk dilakukan krn pihak gereja beranggapan itu ilmu dr kuasa setan/iblis jd tdk boleh lagi dilakukan....dan setahu saya bukan cuma nenek sy yg bisa, tetapi msh bnyk yg pny ilmu begitu di toraja bagian barat...

gokiel abiez
2010-06-26

ngeri juta teryata prosesinya,

Rizkie
2010-07-10

Mau nanya nih bro, kalo diluar tana toraja, bisa nggak mereka melakukannya?

RIO VICTORINO
2010-07-17

Perlu sya tambahkan klo TAMPUBOLAN yg disebutkan diatas emang orang Batak, tatapi pada saat itu dia menjabat sebagai bupati di Tana Toraja. Prosesi mayat berjalan mungkin sudah jarang untuk ditemui, karena banyak keluarga yang tidak mau jenazah keluarga mereka dibiarkan berjalan sendiri. Mereka beranggapan klo mayat berjalan tersebut seolah2 tidak ter-urus oleh keluarganya. Tetapi saat ini kebanyakan bukan lg mayat yg bisa berjalan yang dapat kita saksikan, tetapi hewan kurban pada upacara pemakaman,.. misalnya kerbau yang dapat bangkit dan "mengamuk" walaupun kerbau tersebut sudah mati dan telah "di-kuliti"...

Anonymous
2010-07-20

Mengenai kebenaran dari gambar2 yg ada di atas apakah itu mayat berjalan? Bisa iya bisa gak cuman keluarga si almarhumlah yang bisa menjawab. Yang jelas foto itu diambil belum lama alias munkin beberapa tahun/bulan belakangan. Tpi mengenai ritual MA' PALINGKA TO MAMMA' dalam bahasa indonesia bisa diartikan menjalakan orang yang sedang tidur adalah sebuah ritual kuno yang pernah ada di Toraja dan sampai sekarng mungkin masih ada yang melakukannya di daerah pelosok2 toraja. Kenapa disebut menjalankan orang tidur dan bukannya orang mati? karena menurut kepercayaan orang toraja (sampai sekarang)seseorang yang sudah meninggal dan belum dimakamkan (biasanya disemayamkan di rumah adat yang disebut rumah tongkonan atau dalam bahasa Toraja disebut BANUA TONGKONAN). Maka almarhum/almarhuamah disebut TO MAMMA alias orang yang sedang tertidur. Nah kalau ada pertanyaan bahwa apakah benar di Toraja ada ritual yang bisa membuat orang yang sudah mati/meninggal bisa berjalan? Maka jawabannya 100% ADA. Ritual tersebut adalah sebuah ritual kuno ketika orang Toraja masih menganut kepercayaan Animisme atau agama leluhur yang dalam bahasa toraja disebut ALUK TO DOLO. Namun semenjak orang Toraja mengenal dan memluk agama Kristen dan Muslim maka ritual tersebut pun tidak dilakukan lagi dengan alasan bertentangan dengan keyakinan Agama yang dianut sekarang. Jadi mengenai gambar diatas yang menurut Prof enigma adalah tidar betul adalah gambar/foto mayat berjalan bisa iya bisa gak......kENAPA? Kalaulah Prof enigma mengatakan bahwa gambar/foto diatas adalah BUKAN MAYAT YANG SEDANG BERJALAN maka saya setuju 100% Karena memnag mayat tersebut tidak sedang berjalan. Tpi apakah anda bisa yakin 100% Prof enigma yang sok tau ini bahwa mayat itu sebelum atau sesudah difoto berjalan atau tidak??????? Sorry kenapa saya mengatakan bahwa anda sok tau, karena anda sebenarnya tidak tau apa2 secuil pun tentang budaya/tradisi orang Toraja tpi anda cuman sok tau aja........ 1.PERTANYAAN: Kenapa orang Toraja melakukan ritual menjalankan mayat? JAWABAN: Mengatasi kesulitan transportasi zaman dahulu dimana sarana transportasi belum menyentuh sampai kepelosok2 kampung ditambah letak geografis TANAH TORAJA yang berada di daerah dataran tinggi yang berbukit2.

Anonymous
2010-07-20

2. Mayat dijalankan pada malam hari dan bukan pada siang hari untuk menghindari keramain dan keheboan akibat ketakutan penduduk kampung yang akan dilalui oleh sang mayat berjalan. 3.Foto/gambar diatas adalah sosok mayat yang sedang dipersiapan untuk menjalani sebuah ritual oleh keluarganya. Dan bukan tidak mungkin bahwa setelah mengganti pakaiannya maka jenazah tersebut memasuki ritual menjalankan mayat pada malam harinya. Karena memang ritual perjalanan mayat hanya dilakukan pada malam hari saja. Atau bukan tidak mungkin bahwa mayat tersebut sudah melakukan rutual berjalan semalaman sebelum tiba pada tempat dimana foto atau gambarnya diambil sekarang. Karena perlu anda ketahui bahwa latar belakang gambar pertama dan kedua ada bangunan kecil di latar belakang yang dalam bahasa Toraja disebut PATANE atau dalam bahasa indonesia adalah tempat pemakaman keluarga serumpun. Perlu anda ketahui juga bahwa jika sekedar mengganti pakaian jenazah maka orang Toraja tidak akan pernah membuat jenazah keluarganya apalagi leluhurnya di buat sampai berdiri dan dipertontonkan seperti itu. Sebaiknay prof enigma yang sok tau ini bila melakukan tanggapan atau analisa atau apapun namanya, yang menyangkut sebuah kebudayaan sebaiknya anda riset dululah yang mendalam tentang budaya objek yang akan anda selidiki atau tanggapin biar gak keliatan bodoh2 banget........Dan yang lebih bodoh lagi jika ada tanggapan yang mendiskreditkan budaya orang lain. Karna perlu saudara sadari dan ketahui bahwa terbentuknya sebuah kebudayaan adalah sebuah proses panjang dari karsa dan rasa sebuah komunitas tertentu yang sudah melalui semua kebijaksanaan dari komunitas tersebut. Atau singkatnya adalah: KEBUDAYAAN ADALH SEBUAH PRODUK KEBIJAKAN LOKAL DARI SEBUAH KOMUNITAS. Dan tidak satupun orang diluar komunitas tersebut yang bisa melakukan penghakiman pada budaya tersebut. Misalkan saya tidak boleh mengatakan bahwa budaya si A jelek......karena saya tidak ada dalam persepakatan budaya tersebut. Boss kalau melakukan analisa mbok ya.....riset dululah apalagi menyangkut budaya jangan cuman copy paste trus posting sana posting sini......analisa loe dalam berbagai hal sangat dangkal kok paling cuman copy paste dari web lain.......payah... itu sih bukannya bikin orang yang baca makin pinter tapi malah tambah bego.........

Anonymous
2010-07-21

Wuihhh, Om anonymous di atas hebat. (-_-)a Pengetahuannya soal Toraja tiada tandingannya di seluruh dunia. Jago banget. Om pasti guru ya, soalnya gaya ngomongnya kayak menggurui. Tapi aneh deh om, om sudah ceramah panjang lebar soal budaya Toraja, tapi kok akhirnya nulis:"Kalaulah Prof enigma mengatakan bahwa gambar/foto diatas adalah BUKAN MAYAT YANG SEDANG BERJALAN maka saya setuju 100% Karena mmg mayat tersebut tidak sedang berjalan." kan artinya Om guru setuju sama Mr.E. Yah, jadinya nggak ada yang baru dong om. Nggak jadi deh hebatnya. Maaf ya om ^_^v

w1se_m4n
2010-07-23

@anonymous July 21, 2010 3:20 AM. Sebenernya anda ga pantes bilang sok tau, karena anda berdasarkan kepada keyakinan anda yaitu agama animisme yang meyakini benda mati memiliki roh dll. kalau saya meyakini secara agama saya (muslim) bahwa setiap yang hidup akan merasakan mati, dan setiap yang mati terpisah dunia ruh nya di alam barzakh dengan kita dan tidak mungkin hidup kembali. Apakah dengan keyakinan saya ini saya tidk boleh menyatakan bahwa kisah mayat berjalan diatas adalah hoax dan impossible ? boleh saja dong, tapi apakah saya berhak bilang bro enigma sebagai orang yang sok tahu ? kalau begitu boleh pula saya bilang anda sudah sok tahu, jadul dan penganut animisme juga dong... gimana mau maju orang udah mikirin ke planet mars, anda masih mengingatingat mayat berjalan hehehe

AbramsT
2010-08-18

wahhh...seru banget nich. Ngk usah dolemik lah boss. Dari ketiga photo tersebut adalah mummi dan acaranya adalah penggantian bungkus mayat dalam bahasa toraja disebut ma'sondai balun (saya sering ikut acara tersebut) hal ini rutin dilakukan di toraja. Masalah mayat berjalan, itu emang ada tapi sekarang sudah jarang bahkan mungkin tidak ada lagi. Kejadian ini saat di Toraja masih sangat terbatas/tidak ada alat transportasi. Menjalankan mayat itu biasa di Toraja, kerbau saja yang da mati bisa berjalan mlh bsa berkelahi malah. Marilah kita bangga dengan keragaman adat istiadat/kebudayaan di negara kita. Yuk,,,,kita jaga & jng dipolemik

budiarto
2010-08-19

Iyake kita ma'rupa tau : ma'kadaki' ba'tu ma'pogau' di pasi toe duka tu petossokna.. artinya kalo manusia itu mengeluarkan pendapat atau mengerjakan sesuatu haruslah mempunyai pegangan karena manusia dilengkapi dengan akal dan budi pekerti. Ada sebuah doa-doa (Mangngimbo) kepada leluhur yang saya artikan dalam bahasa enrekang (Bahasa tae' : Toraja, Enrekang, Palopo, Mamasa) kl saya asli toraja. Begini... - Deata Malolo..deata malolo, Endek moko nande pesung dondengmu.... - Deata matetten endek moko nengnge buttu possi' aso butomu.... * Artinya : - Hai Roh-roh nenek moyangku yang berjalan dalam kebenaran datanglah dan makanlah sesaji ayam jantan ini.. - Hai Roh-roh yang jahat pergilah engkau keatas sana dan bertelanjang ria diatas bukit dan jangan sentuh sesaji ini.. Menanggapi artikel Bung Enigma saya sebagai putra toraja sangat miris dan merasa kebudayaan kami tidak masuk akal dimata anda.. OK. saya mengajak anda untuk berkunjung kedaerah kami, ada sebuah desa pada perbatasan toraja, pinrang, enrekang dan mamasa.. desa tersebut masih terisolir dengan dunia modern. Nah untuk acara pemakaman masih dilakukan Ma'palingka Tomate krn desa tersebut berbatu dan berbukit-bukit.. Welcome in Toraja.

enigma
2010-08-19

@budiarto: jangan salah paham. Tulisan diatas bukan untuk merendahkan budaya Toraja (sepertinya saya tdk ada menulis satu kalimat pun yang merendahkan Toraja). Tulisan itu hanya utk menentukan peristiwa ya TERPOTRET di foto pertama. Mengenai mistik, mayat berjalan dll, saya percaya keberadaannya. Tetapi, tulisan ini tdk membahas soal itu.

Anonymous
2017-01-11

Kok aneh sih artikelnya terulis"Januari 2017" tp kenapa yg komen tertulis tahun 2010?? Tlg jelasin dong.. Gagal faham ane

everybodygoesblog
2017-01-11

akhirnya update juga setelah sekilan lama.

Anonymous
2017-01-11

Serem -,-

N Firmansyah
2017-01-12

Btw, EYD (Ejaan yang Disempurnakan) sekarang sudah diganti jadi EBI (Ejaan Bahasa Indonesia) secara resmi.